My Blog RSS Feed
 
 
 
 

Tidak ikut mengatur bersama -NYA

Dalam Al-Hikam Ibn Athaillah bertutur “ Kesungguhanmu mengejar apa yang sudah dijamin untukmu dan kelalaianmu melaksanakan apa yang dituntut darimu adalah bukti dari rabunnya mata batinmu “ karena Itu istirahatkan dirimu dari mengatur urusanmu , karena segala yang telah diurus oleh ‘selainmu’(yakni allah) tak perlu engkau turut mengurusnya.

Menggebunya semangat tak akan mampu menerobos benteng takdir .seberapapun banyak energi yang kita curahkan untuk memenuhi suatu keinginan tetap saja tak akan tergapai jika tak sesuai dgn keputusan tuhan.Apa yang menurut kita baik ternyata bisa membawa keburukan dan sebaliknya. Boleh jadi ada keuntungan dibalik kesulitan.Boleh jadi kerugian muncul dari kemudahan..dan kemudahan muncul dari kerugian..Mana yg berguna dan mana yg berbahaya pada akhirnya adalah sesuatu diluar pengetahuan kita.

Oleh sebab itu menurut pandangan Ibn Athailah “ sibuk mengatur nasib sendiri’ sejatinya adalah tindakan yg kurang lebih sia-sia,apalagi bila kesibukan ini melalaikan kita dari tugas-tugas sebagai hamba. Lucu sekali bila manusia tetap berhasrat akan pengaturan diri . pertama, karena ia pada dasarnya tak mengetahui apa yg terbaik bagi dirinya..dan kedua karena allah yg maha mengetahui apa yg terbaik buat para makhluknya senantiasa dekat dan mengatur secara baik. Allah itu dekat dan karenanya senantiasa memberikan perhatian kepada kita sekalipun tanpa sepengetahuan kita. Tidak percaya kalau dia tak akan mengabaikan kita adalah bukti lemahnya iman kita.Allah juga sayang dan karenanya selalu mengatur urusan kita secara baik,Pengaturan kita terhadap kita adalah bukti ketidak tahuan kita akan pengaturan allah yang baik terhadap diri kita.dan karena adalah juga bukti minimnya cahaya makrifat di hati kita.

Bukan Makhluk tapi hamba

Hamba identik dengan kata budak…seorang budak(hamba)tidak pernah mengharapkan apa2 dari tuan yg menyuruhnya…dia hanya dengan ikhlas& semangat menjalankan perintah tuannya..& bukanlah pembantu..karena budak tidak pernah dibayar&mengharapkan bayaran(upah)…. Begitulah kira2 ..idealnya manusia sebagai makhluk allah yg menyandang predikat hamba –NYA…..sudahkah kita berpredikat sebagai hamba allah??dmn setiap gerak-gerik kita, ibadah kita hanya untuk –NYA & tanpa mengharap apa2 kecuali Ridho-NYA….

Inna shalati,wanusuki,wamahyaaya, wamamaati lillaahi rabbil’aalamin..

Memilih Yang Sejati Dan Abadi

Ilmu orang tua adalah pengetahuan akal dan kesadaran batin bahwa ia
akan mati, dan itu bisa berlaku tidak 30 tahun yang akan datang,
melainkan bisa juga besok pagi-pagi menjelang seseorang masuk kantor.
Orang tua yang berpikir efisien tidak menghabiskan tenaga dan waktunya
untuk kesementaran, melainkan untuk keabadian. Tidak menumpahkan
profesionalisme untuk menggapai sesuatu yang toh tidak akan
menyertainya selama-lamanya.

Ilmu orang tua adalah kesanggupan memilih satu dua yang abadi di antara
seribu dua ribu yang temporer. Memilih satu dua yang sejati di tengah
seribu dua ribu hal-hal, barang-barang, pekerjaan-pekerjaan,
target-target yang palsu. Manusia yang paling profesional adalah yang
memiliki akar pengetahuan dan daya terapan untuk bersegera menggunakan
ilmu orang tua tanpa menunggu usianya menjadi tua.

Manusia yang paling cerdas dan peka adalah yang mengerti bahwa segala
sesuatu dalam kehidupannya harus diperbaiki sekarang juga, tidak besok
atau lusa, karena bisa keburu mati. Bahwa apapun saja harus segera
di-husnul-khatimah-i dan menghindarkan diri dari
kemubaziran-kemubaziran mengurusi hal-hal yang semu, palsu dan
temporer.

Bahwa hutang harus segera dibayar. Bahwa kesalahan harus segera
dihapuskan dengan meminta maaf kepada sesama manusia yang disalahi dan
memohon ampun kepada Tuhan.

Bahwa omset ekonomi berapapun tidak menolong seseorang di garis
kematiannya. Bahwa jabatan setinggi apapun tidak menambahi
keberuntungan apapun di hadapan mautnya. Bahwa kejayaan, kemegahan dan
kegagahan macam apapun tidak akan sanggup mengurusi nasibnya di depan
sakaratul maut, yang akan muncul mendadak dan tiba-tiba

Orang Islam, Bukan Golongan Islam

Benturan antar ”kebenaran” terjadi saat orang-orang berani mengambil-alih jabatan Tuhan, fungsi Tuhan, dan kerjaan Tuhan. Padahal, dalam ajaran tauhid, urusan kebenaran adalah hak prerogratif Tuhan. Demikian disampaikan KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur kepada Mohamad Guntur Romli dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) di Radio 68H, Jakarta.

Keberagamaan umat Islam saat ini sering dikaitkan dengan radikalisme dan kekerasan. Apa yang salah menurut Gus Dur?
Saya rasa persoalannya adalah ketidakmengertian. Mereka yang melakukan kekerasan itu tidak mengerti bahwa Islam tidaklah terkait dengan kekerasan. Itu yang penting. Ajaran Islam yang sebenar-benarnya—saya tidak memihak paham mana pun, baik Ahlus Sunnah, Syi’ah, atau apapun—adalah tidak menyerang orang lain, tidak melakukan kekerasan, kecuali bila kita diusir dari rumah kita. Ini yang pokok. Kalau seseorang diusir dari rumahnya, berarti dia sudah kehilangan kehormatan dirinya, kehilangan keamanan dirinya, kehilangan keselamatan dirinya. Hanya dengan alasan itu kita boleh melakukan pembelaan.

Bagaimana cara menanggulangi radikalisme itu, Gus?
Ya, kita tidak boleh berhenti menekankan bahwa Islam itu agama damai. Dalam Alquran, ajaran tentang itu sudah penuh. Jadi, kita tidak usah mengulang-ulang (pernyataan) lagi bahwa Islam itu damai dan rasional. Hanya saja, memang ada sisi-sisi lain dari Islam yang kurang rasional. Tapi kalau dipikir-pikir lagi secara mendalam, jangan-jangan itu rasional juga. Jadi dengan begitu, kita tidak boleh serta-merta memberikan judgement, pertimbangan, penilaian. Jangan! Kita harus benar-benar tahu latar belakang mengapa seseorang melakukan kekerasan. Tapi biasanya, yang pura-pura (Islam) itulah yang paling keras.

Menentang pemerintahan yang zalim, yang menyengsarakan rakyat, apakah bisa disebut jihad, Gus?
Sekarang kita tetapkan dulu: pengertian jihad itu apa? Jihad adalah berperang di jalan Allah. Kalau tidak begitu, ya, berarti jihad dalam pengertian lain. Ada banyak macam jihad, yaitu jihad ashghar (terkecil), shâghîr (kecil), kabîr (besar), dan akbar (terbesar). Ayatullah Khomaini pernah mengatakan bahwa jihad ashghar, atau jihad yang terkecil adalah menegakkan keadilan. Tapi itu tergantung niat Anda juga.
Kalau niat Anda berjihad kecil hanya untuk merobohkan pemerintahan, hasilnya ya, merobohkan pemerintahan saja. Di sini kita bisa kiaskan dengan ungkapan Alquran yang menyebutkan itu tergantung pada orangnya. Kalau seseorang mau hijrah karena Allah dan utusan-Nya, maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan utusan-Nya. Tapi kalau hijrahnya demi harta benda atau perempuan yang akan dinikahi, ya, hijrahnya akan sampai pada apa yang akan dia hijrai itu.
Sama saja dengan cara kita dalam menilai jihad. Luarnya bisa saja seperti jihad; tapi dalamnya kita nggak tahu. Makanya jangan gegabah dalam soal ini. Nggak gampang (menilainya, Red).

Bagaimana menentukan sikap Islam yang benar dalam kompleksitas kehidupan dunia ini?
Sikap Islam yang benar adalah sikap yang sesuai dengan ajaran pokok Islam. Ajaran pokok Islam ialah: Tuhan itu satu. Jadi kita dituntut untuk mematuhi ajaran Tuhan, saling kasih mengasihi, dan sebagainya. Kita harus saling kasih mengasihi antarmanusia. Kalau mau lebih disempurnakan, ya silahkan. Itu kan urusan masing-masing. Tapi kalau ada orang yang berpendirian lain, ya nggak apa-apa juga.

Mana yang lebih baik antara undang-undang buatan manusia dengan apa yang sering disebut ”hukum Tuhan” oleh sebagian aktivis Islam selama ini?
Yang perlu dilihat itu segi pemakaiannya, jangan bikinannya. Quran itu memang bikinan Tuhan, dan kita pakai pada saatnya. Sedangkan undang-undang dasar itu buatan manusia, dan kita pakai juga pada tempatnya. Dalam kehidupan bernegara, kita pakai undang-undang dasar. Dalam kehidupan bermasyarakat kita menggunakan undang-undang Alqur’an. Begitu saja kok nggak tahu?!
Nah, merupakan kewajiban pemimpin Islam untuk menjelaskan itu supaya jangan ada kekeliruan. Undang-undang dasar itu memang buatan manusia; jadi kapan saja mau diubah, ya bisa saja. Kalau Alquran, penafsirannyalah yang dari waktu ke waktu berubah; dan itu juga diakui oleh Alquran sendiri.

Bagaimana Gus Dur menafsirkan ungkapan Alquran innaddîna ‘indalLâhil islâm?
Artinya begini: sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah Islam.Tapiitu kan katanya orang Islam, toh?! Ya sudah, selesai! Itu kan juga kata kitab sucinya orang Islam. Makanya, kalau orang Islam bilang begitu, ya pantas-pantas saja. Sama saja ketika agama lain mengatakan “Ikutilah aku!” Itu kata Yesus. Nah, soalnya tinggal kita ikuti atau tidak. Itu saja.

Islam seperti apa yang paling utama bagi Gus Dur?
Yang paling utama bukan Islam golongan, tapi orang Islam. Ingat loh, antara institusi agama dengan manusianya itu berbeda. Perbedaannya sangat jauh; ada yang ikhlas, ada yang cari pangkat, cari kedudukan, cari kekayaan, dan lain sebagainya. Jadi, sangat susah menilai dan mengatakan Islam mana yang paling baik. Saya saja nggak berani ngakui kalau Islam saya yang paling benar. Sebisa-bisanya saya jalani saja.

Lalu bagaimana Gus Dur mendefenisikan istilah kafir?
Mengenai pengertian kafir, muballigh kayak Yusril Ihza Mahendra saja–menteri kita itu—nggak tahu. Dulu dia pernah bilang, “Saya kecewa pada Gus Dur yang terlalu dekat dengan orang kristen dan Yahudi. Padahal, Alquran mengatakan, tandanya muslim yang baik adalah asyiddâ’u`‘alal kuffâr (tegas terhadap orang-orang kafir, Red).” Terus saya balik tanya, “Yang kafir itu siapa?”
Menurut Alquran, orang Kristen dan Yahudi itu bukan kafir, tapi digolongkan sebagai ahlul kitab. Yang dibilang kafir oleh Alquran adalah ”orang-orang musyrik Mekkah, orang yang syirik, politeis Mekkah”. Sementara di dalam fikih, orang yang tidak beragama Islam itu juga disebut kafir. Itu kan beda lagi. Jadi, kita jelaskan dulu, istilah mana yang kita pakai.

Banyak sekali soal khilafiah di dalam masyarakat dalam menafsirkan agama yang satu sekalipun. Apa kriteria perbedaan yang membawa rahmat itu, Gus?
Dulu, ada perbedaan antara Muhammadiyah dengan NU soal tarawih dua puluh tiga rekaat atau sebelas. Kan begitu?! Semua itu sama-sama boleh. Jadi, jangan ribut hanya karena masalah seperti itu. Yang harus kita selesaikan adalah masalah-masalah pokok seperti kemiskinan, kebodohan, korupsi, dan sebagainya. Tapi itu malah yang nggak pernah diurusi. Malah yang diributkan tentang shalatnya bagaimana; sebelas rekaat atau berapa. Itu kan bukan masalah yang serius?!

Bagaimana membuat Islam sebagai rahmat, bukan malah mendatangkan laknat?
Agama akan menjadi rahmat jika ia datang kepada manusia untuk kepentingan kemanusiaan. Tapi kalau untuk kepentingan manusianya sendiri, dan bukan untuk memenuhi kepentingan kemanusiaan, itu bukan agama namanya. Itu penggunaan agama yang salah. Contohnya, perlunya agama terlibat langsung dalam isu lingkungan hidup. Itu sangat jelas, karena lingkungan hidup sangat dibutuhkan manusia untuk mengatur kehidupan.
Isu itu merupakan kebaikan yang menyangkut langsung tentang kemaslahatan hidup. Makanya, di sini kita rumuskan dengan nama keyakinan. Kalau keyakinan itu untuk kemaslahatan semua, berarti itu agama. Tapi kalau tidak, ya namanya kepentingan kelompok. Jadi harus dibedakan antara kepentingan agama secara umum dengan kepentingan kelompok.

Sekarang ini agama tampaknya hadir kembali ke ruang publik dalam bentuk partai-partai dan kelompok-kelompok sektarian. Itu makin memperkental identitas kelompok. Bagaimana tanggapan Gus Dur?
Ya, nggak apa-apa. Disebut atau tidak agamanya, sama saja. Yang penting agendanya untuk kepentingan kemanusiaan secara umum. Yang menjadi pokok, untuk kepentingan siapa dia bekerja? Kalau untuk kepentingan kelompok yang bersangkutan, itu namanya bukan agama. Bagi saya, agama itu harus hadir untuk semua golongan.
Di Alquran juga ada pengertian mengenai hal ini. Tanda-tanda atau bukti-bukti kehadiran Tuhan, adalah jika yang bersangkutan mengharapkan kerelaan Tuhan, bukan untuk dirinya sendiri. Kalau begitu, ya bukan juga demi mengharap masuk surga. Tapi karena kerelaan. Kemudian untuk kebahagiaan akhirat nanti.
Tanda-tanda kebesaran Allah itu ada dimana-mana; ada yang secara lafzi atau kata-kata, dan ada yang secara keadaan. Laqad kâna lakum fî rasûlilLâhi uswatun hasanah, liman kâna yarjulLâha wa yaumil âkhir wa dzakaralLâha katsîra (Rasulullah telah dijadikan panutan yang baik bagi orang-orang yang berharap (keridaan) Allah dan hari akhir dan mereka yang banyak-banyak mengingat Allah, Red). Itu kata Alquran.

Mengapa ada kelompok Islam yang ingin ajaran-ajaran spesifik Islam diatur dalam hukum negara, seperti kewajiban berjilbab dan lain-lain?
Pemikiran seperti itu sebetulnya bersifat defensif. Artinya, mereka takut kalau Islam hilang dari muka bumi. Itu namanya defensif; pake takut-takutan. Sebenarnya, nggak perlu ada rasa ketakutan seperti itu. Mestinya, hanya urusan-urusan kemanusiaan yang perlu kita pegang. Adapun soal caranya, terserah masing-masing saja. Jadi orang Islam nggak perlu takut (Islam lenyap, Red).
Coba saja bayangkan: dulu Islam berasal dari komunitas yang sangat kecil. Tapi sekarang, Islam jadi agama dunia. Agama Buddha dulu juga demikian, Kristen juga demikian. Orang Kristen dulu dimakan macan; nggak bisa apa-apa. Sama rajanya diadu dengan tangan kosong, bahkan diadu dengan singa. Toh sekarang agama Kristen jadi agama yang merdeka di mana-mana.
Begitu juga dengan Islam. Jadi, tidak usah diambil pusing. Di negara Republik Rakyat Cina (RRC) yang katanya tak bertuhan, agama Konghucu atau Buddha, dalam kenyataannya tetap ada dan berkembang walau secara sembunyi-sembunyi.

Mengapa sering terjadi benturan klaim kebenaran antar agama-agama, bahkan dalam satu rumpun agama yang sama?
Karena kita berani-beraninya mengambil alih jabatan Tuhan, fungsinya Tuhan, kerjaannya Tuhan. Emangnya kita siapa, kok berani-beraninya?! Nggak ada yang lebih tinggi dari pada yang lain. Yang lebih tinggi dan lebih besar dari segalanya hanya Tuhan

Bagaimana Gus Dur memaknai ajakan berislam secara kâffah atau total?
Islam kâffah itu maksudnya adalah Islam yang memperlakukan manusia sebagai manusia yang utuh. Jadi kalimat udkhulû fis silmi kâffah itu bukan menyangkut ajaran Islamnya, tapi soal masuknya yang kâffah. Artinya, masuk ke sana dalam perdamaian yang total. Kalau dengan kebencian atau apalah, itu nggak total namanya.

Ada yang bilang, yang tidak sudi menjalankan hukum-hukum Islam pada level negara, tidak kâffah Islamnya. Mereka dianggap kafir. Pandangan Gus Dur?
Ada hal-hal yang prinsipil dalam Islam, dan tidak semuanya lantas pantas dikafirkan. Alquran juga menyatakan bahwa “pada hari ini telah Kusempurnakan agama kalian, dan telah Kusempurnakan pemberian nikmat-Ku kepada kalian, dan Kujadikan Islam sebagai agama kalian”. Nah, kesempurnaan di situ menyangkut hal-hal yang prinsipil. Begitulah pemahamannya. Jangan kita salah paham terus.
Ada cerita tentang orang yang suka salah paham, persis seperti jemaah haji Indonesia yang bingung ketika di Mekkah. Soalnya, setiap nyegat bis, kernetnya selalu teriak-teriak: “Haram…! Haram..!” Akhirnya, dia tak mau naik, karena takut dibilang haram. Lalu dia nungguin bis sampai sore sampai mendengar yang bilang “halal…! halal…!” Kan susah menghadapi orang yang suka salah paham gitu?! Kata ”Haram” itu dia pahami sebagai sesuatu yang dilarang agama. Padahal, maksudnya adalah jurusan Masjidil Haram, hehe.

Ada kesan umat Islam memusuhi seni rupa. Jangankan menggambar sosok nabi, menggambar makhluk bernyawa saja dikecam. Bagaiman Islam memandang seni rupa, Gus?
Dulu ada KH. Ahmad Mutamakkin dari Pati. Dia dituduh para ulama fikih di daerahnya telah mengamalkan sesuatu yang bertentangan dengan hukum Islam. Kenapa? Dia membiarkan adanya gambar gajah dan ular di tembok masjid. Lalu tuduhan bertambah: dia anti Islam, karena suka menonton wayang kulit lakon Dewa Ruci. Kata yang menuduhnya: orang Islam kok percaya dewa-dewi?!
Memangnya kenapa; untuk nonton saja nggak boleh?! Dari sana dia kan bisa mengambil teori-teori yang dia tidak cocok. Untuk itu, kita ini jangan gampang-gampang bereaksi, apalagi menganggap orang lain itu kafir.

Bagaimana hubungan Islam dengan kebudayaan lokal Indonesia selama ini, Gus?
Antara agama Buddha dan Islam di Nusantara, banyak sekali persamaan-persamaannya. Di antaranya ketika Islam (di Indonesia, dan yang lebih khusus Islam tradisional), disebarkan lewat tradisi. Di antaranya tradisi syair yang ditempuh Sunan Kalijaga. Tembangnya sampi sekarang masih terkenal, yaitu tembang Lir Ilir. Persamaan lainnya adalah dalam hal penjagaan tradisi. Agama Islam dan Buddha sama-sama mengagungkan tradisi unggah-ungguh antara yang muda dengan yang lebih tua. Dalam hal ini, budaya-budaya timur sangat sinkron dengan kedua agama itu.
Tapi permasalahnnya, di level nasional banyak permasalahan yang tidak sepadan antara budaya-budaya timur—dalam artian budaya kerakyatan—dengan budaya Indonesia di tingkat nasional yang tampak kebarat-baratan. Misalanya masalah aurat. Bagi masyarakat pedasaan, jika berpakaian sudah rapi dengan kerudung, walau menggunakan kerudung yang transparan, itu dianggap sudah menutup aurat. Tetapi di level nasional, ada yang mengatakan itu masih belum mencapai batas maksimal penutupan aurat. Di sini timbul masalah.
Sama seperti kasus ciuman. Bagi orang-orang di level nasional, cium pipi itu sudah merupakan hal yang wajar. Tapi bagi masyarakat pedesaan, itu hal yang tidak wajar, karena salaman dengan lawan jenis saja sudah dianggap fitnah.

Lalu bagaimana agama menjembatani tradisi-tradisi yang berbeda antara tradisi yang di atas dengan tradisi yang di bawah ini?
Caranya adalah dengan menjamin hak-hak orang untuk melakukan penafsiran. Jangan asal berbeda sedikit dimarahi. Gendeng, apa?! Ya, memang kita nggak bisa memaksakan hal yang lampau dengan yang sekarang, bukan hanya soal yang bawah dengan yang atas. Zamannya mbah saya dulu, pakai sarung adalah harus. Dulu, kaidah NU adalah: man tasyabbaha bi qaumin fahuwa minhum (siapa yang menyerupai sebuah kaum, dia termasuk kaum itu). Kalau pakai celana, berarti orang Barat, dong! Begitu, toh?! Tapi, sekarang kan sudah lain. Semua itu perlu peran agama untuk terus-menerus mendialogkan; mempersoalkan terus tanpa mengganggu undang-undang.

Apa kuncinya agar usaha dan doa kita terkabul, Gus?
Kuncinya, ya ikhlas. Kalau nggak terkabul, artinya Anda nggak ikhlas. Simpel saja. Makanya Ibn Athaillah al-Iskandari pengarang kitab al-Hikam berkata, idfin wujûdaka fî ’ardlil qubûr (kuburkan dirimu dalam bumi kekosongan, Red). Maksudnya, kita harus benar-benar kosong supaya tak punya keinginan apa-apa. Susahnya, orang berdoa itu kan banyak pengennya. Ini celakanya. Makanya, kalau kita berdoa, jangan minta apa-apa; terserah Tuhan sajalah. Pokoknya yang terbaik menurut Tuhan saja.

Apa gunanya kehendak dan doa jika segalanya sudah ditentukan Tuhan?
Dalam pandangan Islam, manusia boleh menghendaki apa saja, tetapi yang menentukan jawaban ”ya” atau ”tidak”, ya Tuhan. Ungkapan yang dikenal yaitu, “AlLâhu yurîd, wan nâs yurîd, walLâhu fa`âllun limâ yurîd” (Allah berkehendak, manusia juga berkehendak, tetapi hanya Allah yang mewujudkan apa yang Ia kehendaki). Jadi, prinsip berdoa adalah meminta kepada Tuhan supaya Dia mengabulkan.

Mendambakan Pasangan Merupakan Fitrah

Dalam kehidupan yang kita alami ini terlihat jelas asalnya keberpasangan. Ada malam ada siang, ada pagi ada sore, ada senang ada susah, ada jantan ada betina, demikian seterusnya. Hanya Sang Kholiq, Allah SWT. Yang tidak ada pasangan-NYA, tidak ada pula serupa-NYA. Listrik pun berpsangan ada arus positif ada arus negative. Bumi yang kita hunipun, ada kutubnya yang positif dan ada kutupnya yang negative. Bahkan atum yang tadinya diduga merupakan wujud terkecil dan tidak dapat terbagi, ternyata ia berpasangan dari electron dan proton.

Dalam berpasangan itu, lahir kerjasama dan dengan kerjasama, hidup bersinambung lagi harmonis. Masing-masing secara berdiri sendiri memiliki keistimewaan tetapi juga kekurangan. Dengan keberpasangan tercipta kesempurnaan dan menyatu keistimewaan itu.

Bunga-bunga yang mekar dengan indahnya, bertujuan antara lain merayu burung dan lebah agar mengantar benihnya ke kembang lain untuk dibuahi. Bukan hanya binatang dan tumbuh-tumbuhan, bahkan atompun – yang negative dan positif – electron dan proton bertemu untuk saling tarik menarik unutk menjaga eksistensinya. Demikian naluri makhluk yang dianugerahi Allah kepadanya. Masing-masing memiliki pasangan dan berupaya bertemu dengan pasangannya. Agaknya tidak ada satu naluri yang lebih dalam dan kuat dorongannya melebihi naluri dorongan pertemuan dua lawan jenis, pria dan wanita, jantan dan betina, positif dan negative. Itulah cipataan dan pengaturan Ilahi.

Maha suci Allah yang telah menciptakan semua berpasangan, baik yang tumbuh di bumi, dari jenis mereka (manusia) maupun dari makhluk-makhluk yang tidak mereka ketahui” (QS. Yasin [36]:36).

Inilah yang dinamai Law of Sex atau hokum berpasangan yang diletakkan Maha Pencipta bagi segala sesuatu.Manusia dalam keberpasangan berbeda dengan binatang. Pada umumnya ada waktu-waktu tertentu bagi binatang – selain manusia – untuk melakukan hubungan sek. Sekian banyak binatang tidak melakukannya setelah betinanya mengandung, berbeda dengan manusia. Di sisi lain, kecendrungan seksual binatang hanya muncul pada musim bunga, tidak setiap waktu. Karena itu pula “kita mendholimi binatang” ketika kita memaki seseorang yang mengmbar nafsunya ke kiri dan ke kanan tanpa batas dengan menyatakan bahwa “Nafsunya seperti binatang”, sebab pada hakikatnya nafsu manusia apalagi yang durhaka melebihi nafsu binatang bahkan tak mengenal batas.

Keberpasangan adalah aksi dari satu pihak yang disambut dengan reaksi peneriamaan dari pihak lain, satu mempengaruhi dan yang lain dipengaruhi. Atas dasar inilah Law of Sex berjalan, dan atas dasar itu pula alam raya diatur Allah.Jika kita mengaku bahwa keberpasangan merupakan ketetapan ilahi yang berlaku umum – dan ini harus diakui karena kenyataan membuktikanya – maka harus diakui pula bahwa ia bukanlah sesuatu yang kotor dan najis, tetapi bersih, suci lagi terhormat dan selalu harus bersih suci dan terhormat. Itu salah satu sebab mengapa ayat 36 QS. Yasin [36] yang dikutip di atas diawali dengan kata Subhana/Maha Suci. Tidak dibenarkan adanya noda pada seks, dan setiap noda yang mungkin muncul harus segera dihindari. Di sini pertemuan lelaki dan perempuan harus disertai oleh kebersihan dan kesucian.

Selanjutnya jika kita mengaku bahwa aksi dan reaksi, atau pengaruh mempengaruhi, merupakan kodrat segala sesuatu. Maka, harus diakui pula tiada keistimewaan bagi yang melakukan aksi dari segi fungsinya sebagai pelaku, dan tidak ada kekurangan bagi yang menerima reaksinya. Walaupun harus diakui yang melakukan aksi lebih kuat dari yang menerimanya. Seandainya jarum tidak lebih keras dari kain, atau pacul tidak lebih kuat dari tanah, maka tidak ada jahit menjahit dan tidak berhasil pula pertanian. Karena itu jantan atau lelaki mengesankan kekuatan dan penguasaan, sementara perempuan atau betina mengesankan kelemah-lembutan dan peneriamaan.

Namun demikian, sekali lagi kekeuatan atau kelemahlembuatan di sini, tidak menunjukkan superioritas satu pihak atas pihak lain, tetapi masing-masing memiliki keistimewaan dan masing-masing membutuhkan yang lain, guna tercapainya tujuan bersama.Bagi manusia, mendambakan pasangan merupakan fitrah sebelum dewasa, dan dorongan yang sulit dibendung setelah dewasa.

Kesendirian – dan lebih hebat lagi keterasingan – sungguh dapat menghatui manusia karena manusia pada dasarnya adalah makhluk social, makhluk yang membawa sifat dasar ketergantungan.Memang sewaktu-waktu manusia bisa merasa senang dalam kesendirian, tetapi tidak untuk selamanya.

Manusia telah menyadari bahwa hubungan yang dalam dan dekat dengan pihak lain akan membantunya mendapatkan kekuatan dan membuatnya lebih mampu menghadapi tantangan. Karena alasan-alasan inilah maka manusia kawin, berkeluarga, bahkan bermasyarakat dan bernegara.Tetapi harus diingat bahwa keberpasangan manusia bukan hanya atas dorongan naluri seksual, tetapi lebih dari pada itu. Ia adalah dorongan kebutuha jiwanya untuk meraih ketenangan. Ketenangan itu didambakan oleh seorang suami khususnya saat ia meninggalkan rumah dan anak istrinya, dan dibutuhkan oleh istri lebih-lebih saat suami meninggalkanya keluar rumah. Ketenangan serupa dibutuhkan pula oleh anak-anak bukan saja saat mereka ada di tengah keluarga, tetapi sepajang masa.

Entah apa yang terjadi dalam detak-detik jantung seorang perempuan dan laki-laki yang berpasangan secara sah, sehingga keduanya bersedia menurut istilah QS. An Nisa’ [4] afdhaa ba’dhukum ilaa baidh yakni bergaul seluas-luasnya dan sebebas-bebasnya satu dengan yang lain.

Pergaulan ini tidak hanya terbatas pada hubungan jasad, tetapi mencakup aneka kegiatan. Mencakup emosi dan perasaan, keresahan serta sambuatan timbale alik yang beraneka ragam serta rahasia-rahasia hati yang terdalam. Pergaulan yang dilukiskan ayat diatas mencakup puluhan gambaran kehidupan bersama suami istri sepanjang hari dan malam, yang jumlahnya tidak terbatas dari kenangan yang dirangkum oleh hari-hari perkawinan, sampai mencakup pula setiap denyut cinta, setiap pandangan asmara, setiap sentuhan badan, setiap kebersamaan dalam senang dan susah, harapan dan cemas, pikiran masa kini dan masa dating, setiap kerinduan mencakup masa lalu, setiap pertemuan dalam merangkul anak, semua dicakup dalam kata afdhaa yang maknanya sangat luas. Jika ini terbayang dalam benak suami istri, maka agaknya keberpasangan itu akan tetap langgeng apapun yang terjadi, bahkan langgeng sampai Hari kemudian.

Kesediaan seorang wanita untuk hidup bersama seorang lelaki dan meninggalkan orang tua dan keluarga yang membesarkannya – menggati semua itu dengan penuh kerelaan untuk hidup bersama seorang lelaki yang menjadi suaminya, yang besar kemungkinan belum dikenalnya secara utuh, serta kesediannya membuka rahasinya yang terdalam – semua itu mustahil kecuali ia merasa yakin bahwa kebahagiannya bersama suami akan lebih besar disbanding kebahagiannya bersama ibu bapak dan keluarganya, dan pembelaan suami terhadap dirinya tidak lebih sedikit dari pembelaan saudara-saudaranya. Itulah satu dari sekian banyak ayat (tanda) kehadiran Allah dan kuasa Allah, dan yang perlu diingat dan direnungkan oleh pasangan suami istri sebagaimana pesan-NYA:dansegala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat”.(QS. Adz-Dzariyat[51]:49)Yakni mengingat betapa Maha Kuasa Allah, dan mengingay pula betapa banyak nikmat yang ianugerahkan-NYA kepada manusia dan semua makhluk.

Demikianlah kita dapat menemukan Allah dalam kebersamaan makhluk, dan memang Dia wujud dan kita dapat menemukannya dimana-mana. Wallahu A’lam.

Sebuah Kata Tanpa Suara (shaut) & Tanpa Huruf (harf)

Bagaimana Allah mengajarkan sesuatu kepada makhluknya? Melalui apa? Sebuah kefahaman yang bisa di mengerti oleh apa saja dan siapa saja, sangat mudah & tidak jelimet.Yaitu Sebuah Kata Tanpa Suara  (shaut) & Tanpa Huruf (harf). Adalah kata-kata Tuhan yang paling sederhana dan mudah kita terjemahkan kedalam bahasaa verbal. Kita sudah menerima itu semua ,baik berupa ilham baik(taqwa) maupun ilham buruk (fujur).

Perumpamaan keberadaan kosmos dan yang menciptakannya !!

Ketika kita melihat kereta api berjalan diatas rel, terbetik dibenak kita suatu pertanyaan . bagaimana roda-roda yang berat itu bisa bergerak dan berlari. Tak lama kemudian kita akan sampai kepada pemikiran bahwa alat-alat danmesin-mesin itulah yang menggerakkan roda yang berat itu.Apakah setelah itu kita dibenarkan, jika berpendapat bahwa alat kereta itu sendiri yang menggerakkan kereta tersebut ?

Perkaranya tidak semudah itu, sebab kita tidak boleh mengabaikan bahwa disana ada masinis yang mengendalikan mesin,kemudian ada insinyur yang menciptakan rancangan dan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan,Maka pada hakekatnya tak ada wujud bagi kereta itu dan tidaklah mungkin terjadi gerakan dan perputaran roda-roda tanpa kerja insinyur.mesin-mesin itu bukanlah akhir dari cerita sebuah kereta api,akan tetapi hakekat yang paling akhir adalah “akal” yang telah mengadakan mesin itu, kemudian menggerakkan menurut rencana yang telah dipersiapkan.

Mengikuti ilustrasi cerita kereta api diatas, mulai dari gerbong yang digerakkan oleh masinis,dan semua itu direncanakan oleh yang menciptakan yaitu insinyur. Pertanyaan terakhir adalah …” mungkinkah roda-roda ,mesin,dan alat–alat kereta api itu mampu melihat yang menciptakan?” Jawabannya adalah insinyur itu sendiri yang mengetahui akan dirinya,sebab kereta api dan insinyur berbeda keadaan dan bukan untuk dibandingkan…. Merupakan realitas bahwa tidak ada satupun instrumen kereta api yang serupa jika dibandingkan dengan keadaan insinyur.Dan insinyur tersebut mengetahui keadaan realitas kereta api dari awal sampai akhir.Merupakan kefanaan atau penafian bahwa realitas kereta api adalah ciptaan semata….

Rahasia Di balik peristiwa Kejadian Mikrokosmos??

Di mana para makhluk,baik setan maupun malaikat mempertanyakan kebijakan allah yg menciptakan manusia,yg menurut pandangan malaikat adalah makhluk yg selalu membuat keonaran dan pertumpahan darah. Tidak kalah sengitnya setan memprotes keadaan manusia yg dipandang rendah yang hanya diciptakan dari unsure tanah sambil membanggakan dirinya yg terbuat dari api.Namun Kelembutan Ilahi dan kebijakan tuhan berbisik ke dalam relum rahasia dan misteri malaikat yang terheran-heran. ..Rahasia macam apa ini ?????

Raga manusia memang termasuk dalam derajat terendah.Namun sementara itu roh manusia termasuk kedalam derajat tertinggi. Karena roh manusia berkaitan dengan derajat tertinggi,tidak satu rohpun di alam semesta ini yg menyamai kekuatannya, entah itu malaikat maupun setan sekalipun atau segala sesuatu lainnya.

Demikian pula jiwa manusia berkaitan dengan derajat yang paling rendah, sehingga tidak sesuatupun didunia ini bisa mempunyai kekuatannya,entah itu hewan atau binatang buas, semua sifat setan,tumbuh – tumbuhan dan benda-benda mati di aktualisasikan. Hanya saja tanah itu dipilih untuk mengejahwantahkan sifat” dua tangan-Ku”. Masing-masing sifat tercela ini hanya kulit luarnya saja,didalam sifat itu ada mutiara dan permata berupa sifat ilahi.

Penjelasan diatas merupakan ungkapan mengenai hakikat diri yang sebenarnya, dimana manusia sebagai makhluk yang sangat lemah dan hina, disisi lain dinobatkan sebagai khalifah (wakil allah) yang bertugas mengatur alam semesta dan merupakan wakil allah untuk menjadi saksi-Nya serta mengungkapkan rahasia-rahasia firman-Nya. Para makhluk yang lain tidak melihat ada dimensi yang tidak bisa dijangkau olehnya.,ia hanya mampu melihat pada tingkat yg paling rendah dalam diri manusia, sementara ia terhijab oleh ketinggian derajat manusia yang bersal dari tiupan ilahi.

Dan Ingatlah, Ketika Tuhanmu Berfirman Kepada Para Malaikat : “ Sesunggunya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yg berasal dari Lumpur hitam yg diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh(ciptaan)-Ku, Maka Tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (Qs.Al hijr, 15:28-29)

Akhirnya Kita Tidak Mengerti Secara Utuh(holistic)

Kita banyak melupakan sejarah belajar dan menerima pengajaran para nabi dan orang² alim masa lampau. Mereka menerima kefahaman terlebih dahulu baru mengajarkan sebuah ilmu.Dimasa kita masih balita apakah yang kita dapatkan dari seorang Ibu? Sebuah pengajaran dan belajar secara unik dan ajaib. Beliau mengajarkan bagaimana menerima pengajaran tanpa kata²(parenting),sangat sederhana dan mudah dipahami secara utuh(holistic).

Ibu tidak pernah mendefinisikan bagaimana rasa kasih sayang dan cinta itu.
tidak pula menganjurkan bagaimana menghisap air susu. Kita hanya diam untuk memahami sebuah penegrtian yang mengalir begitu saja. Kefahaman yang utuh !!! Kita menggeliat dipembaringan berbulan², merangkak,mencoba berdiri lalu jatuh,berdiri lalu jatuh lagi ribuan kali ! Ibu menyaksikan proses itu….

Kita hanya di anjurkan untuk memahami yang terjadi dalam jiwa kita.
Sebuah naluri yang masuk dalam sukma.

Mengerti itu adalah fenomena yg unik dan sederhana. Selama ini konsep kita terbalik !! Kita belajar sebuah “pengertian” dari definisi,uraian,penjelasan dan perumpamaan………Akhirnya kita tidak mengerti secara utuh.

Abu Sangkan

Perkenankanlah Aku Mencintaimu

Oleh: A. Mustofa Bisri

Perkenankanlah aku mencintaimu
seperti ini
tanpa kekecewaan yang berarti
harapan-harapan yang setiap kali
dikecewakan kenyataan
biarlah dibayar oleh harapan-harapan
baru yang menjanjikan

Perkenankanlah aku mencintaimu
semampuku
menyebut-nyebut namamu
dalam kesendirian pun lumayan
berdiri di depan pintumu tanpa harapan
kau membukakannya pun terasa nyaman
sekali-kali membayangkan kau memperhatikanku
pun cukup memuaskan
perkenankanlah aku mencintaimu sebisaku

2000

MyLink

Meta